Jumat, 22 Februari 2013

Sulit Belajar Bahasa Asing? Perbaiki 5 Kesalahan Ini



Benarkah hanya orang pintar yang mudah mempelajari suatu bahasa? Jangan percaya. Apalagi saat ini, dunia akademis menawarkan segudang strategi pembelajaran.

Kemampuan belajar bahasa yang paling dasar adalah soal kebiasaan yang dibentuk oleh sedikit disiplin dan kesadaran diri. Namun sayangnya, menurut Anne Merritt, pengajar EFL di Korea Selatan seperti dilansir Telegraph, banyak orang mengulang lima kebiasaan yang justru membuat belajar bahasa asing makin sulit. Apa saja?

1. Tidak banyak mendengar

Banyak ahli yang belajar tata bahasa percaya bahwa belajar bahasa justru dimulai dengan "silent period" atau dia. Sama seperti bayi yang belajar mengucapkan sesuatu dengan mendengar dan menirukan bunyi, orang-orang yang belajar bahasa juga perlu mendengar untuk belajar. Ini dapat membuat belajar perbendaharaan kata dan struktur berjalan lancar serta membantu untuk memperhatikan pola pembentukan bahasa.

Mendengar adalah kemampuan berkomunikasi yang kita gunakan hampir di seluruh kehidupan kita. Namun, ini sulit dilakukan kecuali Anda tinggal di negara lain atau berada di kelas intensif bahasa asing selain bahasa ibu Anda. Solusinya, pakailah musik, non-streaming webcast, acara televisi dan film. Dengar, dengar dan dengarkanlah sesering mungkin.

2. Kurang rasa ingin tahu
Dalam belajar bahasa, sikap bisa menjadi faktor penentu kemajuan kemampuan seseorang. Para ahli bahasa mempelajari sikap dalam pembelajaran bahasa pada tahun 1970-an di Quebec, Kanada, ketika tensi tinggi terjadi antara kaum Anglophones dan Francophones. Riset menunjukkan bahwa kaum Anglophones memiliki stereotip bahwa kaum Perancis di Kanada tidak juga menguasai bahasa Perancis dengan baik meski sudah bertahun-tahun belajar di sekolah yang mewajibkan mata pelajaran Bahasa Perancis.

Di sisi lain, seseorang yang sedang belajar bahasa akan lebih berhasil ketika juga tertarik dengan budaya negara asal bahasa tersebut. Ketertarikan mereka yang belajar bahasa terhadap budaya membuat mereka lebih mudah memahami bahasa yang dipelajari dan lebih terbuka dalam membangun relasi dengan native speakers.

3. Berpikir terlalu kaku

Para ahli bahasa menemukan bahwa mereka yang belajar dengan toleransi yang rendah terhadap ambiguitas atau kerancuan akan lebih merasa sulit dalam belajar bahasa. Belajar bahasa mencakup banyak ketidakpastian. Mereka yang belajar akan menghadapi kosakata baru setiap hari dan untuk setiap aturan tata bahasa ada pengecualian dialek atau kata kerja tidak beraturan. Sampai kefasihan ercapai, akan selalu ada sejumlah kerancuan.

Para pembelajar yang langsung melihat kamus begitu menemukan kata baru akan merasa lebih stres dan bingung daripada mereka yang justru berpijir keras untuk menebak makna suatu kata baru yang ditemuinya. Oleh karena itu, tipe pembelajar "buru-buru lihat kamus" mudah merasa frustasi dan berhenti belajar.

Cara belajar seperti ini sangat sulit untuk diubah, namun latihan kecil bisa membantu. Temuan lirik lagu atau teks dan berlatihlah untuk menemukan makna inti darinya meski ada beberapa kata yang Anda tidak ketahui.

4. Cuma pakai satu metode

Beberapa orang yang belajar bahasa merasa nyaman dengan peralatan untuk mengulang-ulang mendengarkan kaset pembelajaran di laboratorium  bahasa. Beberapa membutuhkan buku teks tata bahasa untuk memahami pelafalannya. Masing-masing pendekatan ini baik, namun salah jika hanya bersandar pada satu metode saja.

Orang-orang yang belajar bahasa menggunakan banyak cara untuk mempraktekkan keahlian bahasa dan mencoba menjelaskan konsep. Menemukan lebih banyak cara juga menolong mereka saat menemukan kebosanan dalam satu metode.

Ketika memilih kelas belajar bahasa, Anda harus mencari kursus yang mempraktekkan empat kemampuan bahasa, yaitu membaca, menulis, mendengar dan berbicara. Jika belajar secara otodidak, cobalah belajar dengan mengombinasikan buku teks, audio dan aplikasi pembelajaran bahasa.

5. Takut
Tak peduli sebaik apa seseorang itu dapat menulis tulisan dalam bahasa asing, menggabungkan kata kerja atau menyelesaikan ujian kosakata, untuk belajar, berimprovisasi dan mengetes kemampuan, Anda perlu berbicara.

Ini adalah tahap dimana bungkam, rasa malu dan rasa tidak nyaman akan menghancurkan kerja keras mereka dalam belajar bahasa. Dalam budaya timur dimana harga diri adalah nilai sosial yang tinggi, mudah untuk tidak mau mencoba bicara dalam bahasa asing yang sedang dipelajari. Mereka terlalu takut untuk salah dalam tata bahasa atau salah mengucapkan kata-kata karena merasa itu akan membuat sangat malu.

Jadi, kuncinya adalah bahwa berbuat kesalahan justru membantu orang yang sedang belajar bahasa untuk menunjukkan keterbatasan kemampuan mereka dan belajar untuk dikoreksi sehingga akan lebih paham setelahnya. Semakin sering belajar melalui bicara, semakin cepat mereka bisa meningkatkan kemampuan bahasa asing mereka.

Bermodal Semangat Mengajar di Kelas Inspirasi


 

Dengan penuh semangat, Fitri (24), seorang dokter gigi datang ke SD Negeri 03 Tanah Sereal, Tambora, Jakarta Barat, Rabu (20/2/2013) pagi. Berbekal alat bantu ajar berupa kertas karton yang ditempeli berbagai macam gambar, Fitri masuk ke kelas I SDN 03 Tanah Sereal untuk memberikan pengetahuan tentang dunia medis kepada siswa-siswi di SD tersebut.

Fitri yang biasa bertugas sebagai dokter gigi di salah satu klinik di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, merasa sangat antusias mengajar anak-anak sekolah dasar. Walaupun tidak biasa menghadapi anak berusia 6 tahun, Fitri tetap merasa mendapat panggilan jiwa untuk mengikuti program yang dicetuskan oleh Indonesia Mengajar ini.

Fitri mengetahui program kelas inspirasi dari salah seorang temannya. Ia disarankan mengikuti kegiatan ini untuk memberi inspirasi kepada anak bangsa mulai usia dini. Untuk mengikuti program ini, dokter muda itu juga harus memasukkan lamaran dengan berbagai macam persyaratan yang telah diajukan, seperti esai dan formulir yang telah disiapkan oleh panitia kegiatan tersebut.

Agar bisa lolos dan mengikuti program kelas inspirasi, Fitri bersaing dengan 1.200 orang. Jumlah yang diterima untuk bisa mengikuti program ini hanya setengah dari jumlah tersebut. "Yang diterima hanya sekitar 500 orang atau bisa dibilang satu banding dua saja. Kalau tahun kemarin hanya mengajar di 25 sekolah dasar di jakarta dan sekitarnya, tahun ini bertambah menjadi sekitar 50 sekolah," kata Fitri.

Walaupun mengajar dengan penuh semangat, Fitri hampir kewalahan menghadapi siswa-siswi sekolah dasar tersebut. Dia harus melatih kesabaran supaya bisa menghadapi bocah-bocah dengan beragam polah dan rasa ingin tahu itu. "Waktu masuk kelas, anak-anaknya antusias banget," kata Fitri di SDN 03 Tanah Sereal, Rabu pagi.

Fitri mengatakan, selama mengajar anak-anak kelas I, II, dan III, ia harus menggunakan bahasa-bahasa yang mudah dimengerti oleh anak-anak seusia mereka. Pembahasan juga tidak boleh terlalu banyak supaya murid-murid tersebut tidak merasa pusing.

Nabila (6), siswi kelas I SDN 03 Tanah Sereal, menjadi salah satu siswi yang terinspirasi oleh profesi Fitri. Dia memiliki cita-cita ingin menjadi dokter supaya bisa menyembuhkan orang yang sakit. Saat ditanya ingin menjadi dokter dalam bidang apa, Nabila pun menjawab dengan jawaban polosnya. "Mau jadi dokter yang suka sembuhin orang. Nanti sembuhinnya dibelek (bedah) orang yang sakitnya, penyakitnya diambil, terus ditambal lagi deh perutnya," kata Nabila.

Tak hanya mengetahui sedikit cara kerja dokter, Nabila pun menyebutkan berbagai alat yang biasa digunakan oleh dokter, seperti suntikan, teleskop, jarum, dan beberapa alat lainnya. Selain Nabila, Laras, siswa kelas III SD yang sama, juga ingin menjadi dokter karena saat ini ia sering bermain dokter-dokteran bersama temannya.

Wah, Ada "Harry Potter" di Kelas Inspirasi

Jika ingin mengajak anak-anak bermimpi, maka beranilah berimajinasi. Prinsip ini yang digunakan oleh Fira Basuki saat terlibat dalam program Kelas Inspirasi, Rabu (20/2/2013).


Penulis dan Pemimpin Redaksi Cosmopolitan Fira Basuki mencoba memperkenalkan profesinya melalui tokoh Harry Potter, tokoh penyihir hasil imajinasi penulis JK Rowling. Bak Harry Potter, Fira membawa sapu lidi berukuran cukup besar, lalu memperagakannya seperti yang biasa dipakai tokoh dalam novel dan film Harry Potter. 

Di depan para siswa kelas II, III, VI A, dan VI B SD di Negeri Kebon Baru 07 Pagi, Fira menceritakan bahwa untuk menjadi seorang penulis harus berani berimajinasi. Salah satunya dengan menamakan barang-barang yang dimiliki sama seperti nama orang, kemudian mengibaratkan barang-barang itu sebagai orang yang memiliki sifat dan karakter masing-masing. Sapu lidi yang dibawanya pun dipakai untuk menjelaskan terciptanya proses imajinasi.

Ibu dua anak ini mengaku bahagia mengenal kegiatan ini. Pasalnya, tak hanya anak-anak, para relawan juga banyak belajar.

“Selama ini saya sering banget jadi dosen di kampus-kampus untuk kuliah S-1 atau S-2, tapi tempatnya di aula. Baru kali ini saya mengajar anak SD di kelas, ibaratnya jadi guru seharian. Bukan hanya mereka belajar dari saya, tapi saya juga banyak belajar dari mereka. Semoga itu bisa memberikan inspirasi buat semua,” ungkap Fira.

Fira menjadi satu dari 11 relawan yang memperoleh kesempatan untuk mengikuti program Kelas Inspirasi yang digelar Indonesia Mengajar di SD Negeri Kebon Baru 07 Pagi yang terletak di Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Awalnya, Fira sudah mengetahui sendiri mengenai rencana pelaksanaan program ini. Namun, dia mengaku lebih tertarik lagi setelah diajak oleh salah satu temannya, Renee Suhardono, seorang career coach yang juga cukup ternama. 

Di sekolah ini, selain Fira yang adalah penulis, berbagai profesi lain juga terlibat, seperti insinyur pertambangan, perekayasa teknik, peneliti, penulis, dan di bagian pemasaran. Para relawan yang terlibat dalam kegiatan ini tak hanya meluangkan waktu untuk mempersiapkan diri, mereka juga meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya sehari-hari untuk mengajar anak-anak SD di lokasi yang sudah ditentukan. Bahkan ada yang harus mengajukan cuti atau meminta izin ke perusahaan tempatnya bekerja demi tujuan untuk berbagi informasi seputar profesi yang dijalani sehari-hari dan bagaimana cara untuk mencapainya. 

Fira berharap agar ke depannya kegiatan ini semakin terorganisasi dengan baik, termasuk waktu penyelenggaraannya yang lebih teratur. Dengan demikian, orang-orang yang mau mendaftar sudah mengetahui kapan pelaksanaannya.

Kegiatan ini, lanjut Fira, dibutuhkan di tengah kurangnya perhatian pemerintah Indonesia terhadap pola pendidikan di Indonesia. Ia ingin agar pemerintah lebih memperhatikan lagi pendidikan dasar di Indonesia karena anak-anak itulah yang menjadi harapan Indonesia di masa depan. 

“Untuk pemerintah sendiri belum ada standar di SD misalnya untuk gedung dan pola pengajaran. Saya harap pola pendidikan di Indonesia lebih diperhatikan karena anak-anak jadi harapan bangsa Indonesia,” tandasnya.

Anak Sopir Taksi dengan Nilai IQ di Atas Einstein

http://edukasi.kompas.com

Setelah Victoria Cowie muncul dengan hasil tes kecerdasan (intelligence quotient/IQ) sebesar 162, kali ini Lauren Marbe mengejutkan para gurunya setelah tes IQ Mensa yang dijalaninya menunjukkan angka 161. Ini berarti, nilai IQ gadis berusia 16 tahun ini lebih tinggi dari Stephen Hawking, Bill Gates, dan bahkan Albert Einstein yang memiliki nilai IQ 160.
Uniknya, Lauren adalah anak seorang sopir taksi. Awalnya, gadis asal Essex, Inggris, ini memiliki impian untuk menjadi seorang artis di West End. Namun, kini dia menjadi salah seorang remaja yang diperhitungkan di komunitas bergengsi Mensa, organisasi yang berisi orang-orang dengan IQ tertinggi di dunia dan masuk dalam daftar satu persen orang terpandai di Inggris.

Siswi yang diprediksi hanya akan memperoleh nilai A dan A+ dalam program kurikulum internasional yang paling populer di dunia untuk siswa berusia 14 sampai dengan 16 tahun atau GCSE ini mengaku terharu sekaligus bangga karena prestasi ini berhasil diraih seorang gadis asal Essex.

"Ini sebuah prestasi dan saya sedikit terharu untuk mengatakannya. Saya berambut pirang, saya mengenakan make-up dan saya juga jalan-jalan dengan teman-teman saya. Saya suka kulit saya yang sedikit gelap dan kuku palsu saya. Jadi, saya kira saya gadis Essex yang selama ini dikenal," katanya seperti dilansir Telegraph.

"Saya suka tinggal di Essex dan saya senang karena saya bisa menunjukkan kepada banyak orang bahwa tidak semua gadis Essex itu bodoh dan cuma sekadar pirang," tambahnya kemudian.

"Galau"

Lauren yang merupakan siswa dari Roding Valley High School, Loughton, Essex, ini menjalani tes IQ Mensa setelah mencetak dua A+ dalam bidang sains. Di musim panas ini, Lauren siap menjalani program GCSE untuk bidang fisika dan matematika serta bersiap meraih gelar sarjana arsitek di University of Cambridge.

Namun, Lauren juga mengakui bahwa dia juga "galau" antara tanggung jawab terhadap kemampuan akademik yang tinggi dan impiannya untuk menjadi seorang penyanyi dan penari profesional. 

Selama ini, dia menjadi anggota paduan suara ternama dari tahun 2007 dan pernah tampil di West End. Dia juga masih mengikuti kelas tari dan pelajaran menyanyi, musik rekaman, dan ambil bagian dalam sekolah drama Stage One.

Orangtuanya, David (45) dan Sue Marbe (45), mengaku akan terus mendorong jalan yang akan dipilih oleh Lauren. Namun, mereka tidak pernah menyangka anaknya memiliki kecerdasan yang tinggi.

"Saat hidup di sini, banyak stereotip tentang gadis Essex yang akan menekan namun dia justru memperoleh dukungan dari anak-anak gadis lainnya. Essex sering memperoleh pemberitaan negatif. Orang berpikir bahwa seluruh gadis berambut pirang dan kehidupannya suram. Lauren berambut pirang dan dia mulai mengubah stereotip bahwa semua gadis Essex itu bodoh," kata Marbe.

Einstein sendiri sebenarnya tidak pernah menjalani tes kecerdasan karena belum ada tes kecerdasan modern selama hidupnya. Namun, para ahli memercayai bahwa ilmuwan yang merumuskan teori relativitas itu memiliki IQ 160. Sementara itu, di Inggris saat ini, nilai IQ rata-rata berada di kisaran 100.

55 Beasiswa Penelitian untuk Tugas Akhir Mahasiswa


 Peluang mendapatkan dana penelitian terbuka bagi mahasiswa S1-S3 yang melakukan riset. Pertamina Foundation menawarkan 55 beasiswa penelitian bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan tugas akhir untuk skripsi, tesis, maupun disertasi.

Kami ingin mendorong munculnya peneliti-peneliti dengan hasil riset terkait dengan pilar Education for Sustainable Development ESD lewat program Anugerah Riset Sobat Bumi.
-- Nina Nurlina Pramono
"Selain untuk para mahasiswa, peluang sama juga diberikan bagi para maestro yang akan melakukan riset dengan penelitian mandirinya. Kami ingin mendorong munculnya peneliti-peneliti dengan hasil riset terkait dengan pilar Education for Sustainable Development (ESD) lewat program Anugerah Riset Sobat Bumi," kata Direktur Eksekutif Pertamina Foundation Nina Nurlina Pramono di Jakarta, Senin (18/2/2013).
Nina menjelaskan yang dimaksud dengan pilar ESD adalah ekologi atau alam, sosial, budaya, ekonomi dan kesejahteraan. Pertamina Foundation menyediakan anggaran sekitar Rp 1,3 milyar untuk 55 peneliti dalam program Anugerah Riset Sobat Bumi Tahun 2013 .
"Para peneliti mendapat dukungan dana bekisar Rp 10 juta -50 juta, yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Salah satu kunci penilaian adalah jika penelitian yang dilakukan mampu mengintegrasikan setiap topik dalam pilar ESD," kata Nina.
Direktur Pendidikan Ahmad Rizali mengatakan, seleksi akan dilakukan secara ketat oleh tim pakar di bidang masing-masing yang merupakan juri independen. "Kalau lulus di tahap ini, mereka diminta mempresentasikan proposalnya di hadapan dewan juri," kata Ahmad.
Peserta diminta untuk mengirimkan proposal penelitiannnya via email ke Sekretaris Panitia (anugrah.risetsobatbumi@gmail.com) mulai 5 Maret 2013. Adapun syarat dan ketentuan dapat dilihat melalui www.beasiswa-sobatbumi.commulai tanggal 25 Februari 2013.
"Untuk yang lulus seleksi proposal, kami akan undang untuk presentasi pada pekan akhir Maret 2013. Sedangkan pemenang anugerah riset diumumkan pada pekan kedua April," ujarAhmad.  

Ini Dia "Top 10" Sekolah Bisnis di Eropa


Tak bisa dipungkiri, negara-negara di Eropa menjadi tujuan favorit bagi kandidat dari seluruh dunia untuk meraih gelar Master of Business Administration (MBA). Program master dalam bidang ekonomi, termasuk administrasi bisnis, disebut-sebut sebagai program favorit yang memang dicari di Eropa.

Namun, tentu saja dari banyak sekolah bisnis yang ada di Eropa, ada yang terbaik. Sekitar akhir tahun lalu, Telegraph mencatat ada 10 sekolah bisnis dengan program MBA full-time terbaik menurut survei Quacquarelli Symonds (QS) 2012/2013 terhadap reputasi sejumlah perusahaan bertaraf internasional. Apa saja?


10. Judge Business School, University of Cambridge di Cambridge, Inggris
Sekolah bisnis ini masuk ke dalam jajaran sekolah bisnis terbaik karena setiap mahasiswa yang diterima  rata-rata memiliki pengalaman kerja selama tujuh tahun.

Dari nilai 100, perusahaan-perusahaan internasional memberi skor 92,8. Rata-rata gaji para lulusannya dalam tiga bulan setelah lulus adalah 94.000 dolar AS. Ada sekitar 26 persen mahasiswa perempuan dan 94 persen mahasiswa internasional.

9. HEC Paris MBA di Paris, Perancis

Perancis terkenal dengan dua sekolah bisnis yang masuk dalam daftar "top 10" ini. Para mahasiswa yang diterima adalah orang-orang yang cerdas dan selalu punya nilai Graduate Management Admission Test (GMAT) yang lebih tinggi dari sekolah bisnis selain tiga besar di daftar ini.

Rata-rata nilai GMAT para mahasiswanya adalah 690. GMAT adalah tes standar untuk menentukan kemampuan seseorang dalam ilmu manajemen bisnis.

Perusahaan-perusahaan internasional memberi nilai 93,1 (skala 100) kepada HEC Paris MBA. Rata-rata gaji para lulusannya dalam tiga bulan setelah lulus belum tercatat namun para mahasiswanya memiliki pengalaman kerja paling tidak enam tahun. Ada 27 persen mahasiswa perempuan dan 85 persen mahasiswa internasional dari total mahasiswa yang ada.

8. IMD di Lausanne, Swiss
Sekolah bisnis yang menjadi satu-satunya wakil Swiss ini memiliki para lulusan yang unggul soal gaji dibanding sekolah bisnis lain dalam daftar "top 10" ini. Rata-rata gaji para lulusannya dalam tiga bulan pertama setelah lulus adalah 125.000 dolar AS.

Sekolah bisnis ini memiliki mahasiswa internasional yang paling banyak karena mencapai 97 persen dari total mahasiswanya. Selain itu, ada 29 persen mahasiswa perempuan. Namun, perusahaan-perusahaan internasional memberi nilai 96 saja dari skala 100.

7. ESADE Business School di Barcelona, Spanyol
ESADE adalah satu dari tiga sekolah bisnis di Spanyol yang masuk dalam peringkat 10 besar ini. Sekolah bisnis ini juga memiliki cabang di Buenos Aires, Argentina.

Perusahaan-perusahaan internasional memberi skor 97,4 (skala 100). Para lulusannya memiliki rata-rata gaji 89.000 dolar AS dalam tiga bulan pertama setelah lulus. Ada 31 persen mahasiswa perempuan dan 94 persen mahasiswa internasional. Rata-rata pengalaman kerja para mahasiswanya adalah lima tahun.

6. SDA Bocconi School of Management di Milan, Italia
Sekolah bisnis terbaik di Italia ini menjadi favorit saat penerimaan mahasiswa baru. Perusahaan-perusahaan internasional memberi skor 98 untuk sekolah bisnis ini.

Rata-rata gaji para lulusannya dalam tiga bulan pertama setelah lulus adalah 93.000 dolar AS dan ada sekitar 33 persen mahasiswa perempuan.

5. IE Business School di Madrid, Spanyol
IE diminati oleh kandidat internasional dan para kandidat perempuan. Setidaknya ada 89 persen mahasiswa internasional dan 33 persen mahasiswa perempuan dari total mahasiswa.

Perusahaan-perusahaan internasioanl memberi nilai 99,1. Rata-rata gaji para lulusannya dalam tiga bulan pertama setelah lulus adalah 82.000 dolar AS. Sayangnya, sekolah bisnis ini masih hanya memiliki 67 persen mahasiswa internasional.

4. IESE Business School, University of Navarra di Barcelona dan Madrid, Spanyol
Ini adalah sekolah bisnis terbaik di Spanyol dengan dua kantor besar, masing-masing di Barcelona dan Madrid.

Perusahaan-perusahaan internasioanl memberi nilai 99,7. Dengan rata-rata kerja para mahasiswa barunya 4 tahun, para lulusannya memiliki rata-rata gaji mencapai 111.000 dolar AS dalam tiga bulan pertama setelah lulus.

Sementara itu, ada 80 persen mahasiswa internasional dan 29 persen mahasiswa perempuan.

3. Said Business School, University of Oxford di Oxford, Inggris

Oxford melampaui Cambridge dalam hal sekolah bisnis karena para lulusannya yang terkenal di dunia. Pasalnya, banyak lulusannya yang langsung memperoleh gaji enam digit dalam tiga bulan pertamanya setelah lulus.

Rata-rata, para mahasiswa barunya memiliki pengalaman kerja selama enam tahun. Namun, meski memiliki porsi 95 persen mahasiswa internasional, Said Business School Oxford hanya memiliki 24 persen mahasiswa perempuan.

2. London Business School di London, Inggris
Sebagai sekolah bisnis terbaik di Inggris, London Business School mencetak nilai sempurna di dalam survei QS. Para lulusannya memiliki rata-rata gaji sebesar 113.000 dolar AS dalam tiga bulan pertama setelah lulus.

Para mahasiswa barunya rata-rata memiliki pengalaman kerja 5 tahun. ADa 28 persen mahasiswa perempuan dan 89 persen mahasiswa internasional.

1. INSEAD di Paris, Perancis
INSEAD adalah sekolah bisnis terbaik menurut survei ini. INSEAD menjadi yang terbaik karena tak hanya meraih penilaian sempurna dari perusahaan-perusahaan internasional, para mahasiswanya memiliki rata-rata nilai GMAT yang tertinggi, yaitu 702.

Para lulusannya memilki rata-rata gaji sebesar 107.000 dolar AS dalam tiga bulan pertama setelah lulus, sementara para mahasiswa barunya paling tidak memiliki enam tahun pengalaman kerja. Ada 33 persen mahasiswa perempuan dan 90 persen mahasiswa internasional.

Cara Mengamankan 'E-book' dari Pembajakan

http://edukasi.kompas.com/read/2013/02/21/18514460/Cara.Mengamankan.E-book.dari.Pembajakan

Pembajakan hasil karya dan plagiarisme tampaknya sulit dicegah. Berbagai aturan yanh mengatur mengenai pembajakan tak sanggup membendungnya. Salah satu karya yang juga kerap dibajak adalah buku baik versi cetak maupun digital atau e-book. 

Kepala Pengembangan Bisnis Rumponpin.com, Rizky Maulana, mengatakan bahwa pihaknya terus memerangi pembajakan terhadap buku khususnya yang berbentuk digital. Pasalnya, bentuk digital ini paling banyak dan mudah dibajak bahkan diplagiat.

"Buku dalam bentuk e-book ini mudah dibajak sebenarnya. Untuk itu, kita mendesain beberapa hal agare-book tidak mudah dibajak. Musuh besar kita bukan penerbit lain tapi pembajak," kata Rizky saat talkshow mengenai penerbitan e-book dan plagiarisme di Library Cafe Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Kamis (21/2/2013).

Seperti e-book lain, pihaknya menggunakan DRM-platform untuk mengamankan buku digital terbitannya. DRM atau Digital Rights Management ini membuat e-book yang dibeli hanya dapat dibaca pada satu perangkat saja entah itu komputer, laptop, tablet atau smartphone.

"Jadi hanya bisa dibaca oleh satu device saja. Jika mencoba ingin dipindahkan ke device lain tidak akan bisa," ujar Rizky.

Selanjutnya, pihaknya juga membuat reader tersendiri bernama circusreader yang mampu membuka e-book terbitannya. Dengan demikian, para pembeli e-book harus mengunduh circusreader terlebih dahulu jika ingin mulai membaca e-book yang dibelinya tersebut.

"Selain ada reader tersendiri dan tidak bisa dikopi, e-book kami juga tidak bisa diprint. Ini untuk mencegah penggandaan buku tersebut," jelas Rizky.

Yang jadi pertanyaan sekarang, bagaimana jika perangkat alat yang digunakan untuk mengakses e-book tersebut rusak atau yang bersangkutan mengganti perangkatnya? Rumponpin memiliki database akun pembeli e-book tersebut sehingga jika yang bersangkutan melapor bahwa perangkatnya ganti maka akan diverifikasi ulang dan diberi kode baru untuk membuka e-book-nya.

"Kami memang tidak bisa jamin 100 persen bebas pembajakan. Tapi kami terus berusaha memperbaiki itu. Kami juga bekerjasama dengan Kaskus untuk membantu meminimalisir pembajakan terbitan kami," tandasnya.