Jumat, 22 Februari 2013

Sulit Belajar Bahasa Asing? Perbaiki 5 Kesalahan Ini



Benarkah hanya orang pintar yang mudah mempelajari suatu bahasa? Jangan percaya. Apalagi saat ini, dunia akademis menawarkan segudang strategi pembelajaran.

Kemampuan belajar bahasa yang paling dasar adalah soal kebiasaan yang dibentuk oleh sedikit disiplin dan kesadaran diri. Namun sayangnya, menurut Anne Merritt, pengajar EFL di Korea Selatan seperti dilansir Telegraph, banyak orang mengulang lima kebiasaan yang justru membuat belajar bahasa asing makin sulit. Apa saja?

1. Tidak banyak mendengar

Banyak ahli yang belajar tata bahasa percaya bahwa belajar bahasa justru dimulai dengan "silent period" atau dia. Sama seperti bayi yang belajar mengucapkan sesuatu dengan mendengar dan menirukan bunyi, orang-orang yang belajar bahasa juga perlu mendengar untuk belajar. Ini dapat membuat belajar perbendaharaan kata dan struktur berjalan lancar serta membantu untuk memperhatikan pola pembentukan bahasa.

Mendengar adalah kemampuan berkomunikasi yang kita gunakan hampir di seluruh kehidupan kita. Namun, ini sulit dilakukan kecuali Anda tinggal di negara lain atau berada di kelas intensif bahasa asing selain bahasa ibu Anda. Solusinya, pakailah musik, non-streaming webcast, acara televisi dan film. Dengar, dengar dan dengarkanlah sesering mungkin.

2. Kurang rasa ingin tahu
Dalam belajar bahasa, sikap bisa menjadi faktor penentu kemajuan kemampuan seseorang. Para ahli bahasa mempelajari sikap dalam pembelajaran bahasa pada tahun 1970-an di Quebec, Kanada, ketika tensi tinggi terjadi antara kaum Anglophones dan Francophones. Riset menunjukkan bahwa kaum Anglophones memiliki stereotip bahwa kaum Perancis di Kanada tidak juga menguasai bahasa Perancis dengan baik meski sudah bertahun-tahun belajar di sekolah yang mewajibkan mata pelajaran Bahasa Perancis.

Di sisi lain, seseorang yang sedang belajar bahasa akan lebih berhasil ketika juga tertarik dengan budaya negara asal bahasa tersebut. Ketertarikan mereka yang belajar bahasa terhadap budaya membuat mereka lebih mudah memahami bahasa yang dipelajari dan lebih terbuka dalam membangun relasi dengan native speakers.

3. Berpikir terlalu kaku

Para ahli bahasa menemukan bahwa mereka yang belajar dengan toleransi yang rendah terhadap ambiguitas atau kerancuan akan lebih merasa sulit dalam belajar bahasa. Belajar bahasa mencakup banyak ketidakpastian. Mereka yang belajar akan menghadapi kosakata baru setiap hari dan untuk setiap aturan tata bahasa ada pengecualian dialek atau kata kerja tidak beraturan. Sampai kefasihan ercapai, akan selalu ada sejumlah kerancuan.

Para pembelajar yang langsung melihat kamus begitu menemukan kata baru akan merasa lebih stres dan bingung daripada mereka yang justru berpijir keras untuk menebak makna suatu kata baru yang ditemuinya. Oleh karena itu, tipe pembelajar "buru-buru lihat kamus" mudah merasa frustasi dan berhenti belajar.

Cara belajar seperti ini sangat sulit untuk diubah, namun latihan kecil bisa membantu. Temuan lirik lagu atau teks dan berlatihlah untuk menemukan makna inti darinya meski ada beberapa kata yang Anda tidak ketahui.

4. Cuma pakai satu metode

Beberapa orang yang belajar bahasa merasa nyaman dengan peralatan untuk mengulang-ulang mendengarkan kaset pembelajaran di laboratorium  bahasa. Beberapa membutuhkan buku teks tata bahasa untuk memahami pelafalannya. Masing-masing pendekatan ini baik, namun salah jika hanya bersandar pada satu metode saja.

Orang-orang yang belajar bahasa menggunakan banyak cara untuk mempraktekkan keahlian bahasa dan mencoba menjelaskan konsep. Menemukan lebih banyak cara juga menolong mereka saat menemukan kebosanan dalam satu metode.

Ketika memilih kelas belajar bahasa, Anda harus mencari kursus yang mempraktekkan empat kemampuan bahasa, yaitu membaca, menulis, mendengar dan berbicara. Jika belajar secara otodidak, cobalah belajar dengan mengombinasikan buku teks, audio dan aplikasi pembelajaran bahasa.

5. Takut
Tak peduli sebaik apa seseorang itu dapat menulis tulisan dalam bahasa asing, menggabungkan kata kerja atau menyelesaikan ujian kosakata, untuk belajar, berimprovisasi dan mengetes kemampuan, Anda perlu berbicara.

Ini adalah tahap dimana bungkam, rasa malu dan rasa tidak nyaman akan menghancurkan kerja keras mereka dalam belajar bahasa. Dalam budaya timur dimana harga diri adalah nilai sosial yang tinggi, mudah untuk tidak mau mencoba bicara dalam bahasa asing yang sedang dipelajari. Mereka terlalu takut untuk salah dalam tata bahasa atau salah mengucapkan kata-kata karena merasa itu akan membuat sangat malu.

Jadi, kuncinya adalah bahwa berbuat kesalahan justru membantu orang yang sedang belajar bahasa untuk menunjukkan keterbatasan kemampuan mereka dan belajar untuk dikoreksi sehingga akan lebih paham setelahnya. Semakin sering belajar melalui bicara, semakin cepat mereka bisa meningkatkan kemampuan bahasa asing mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar