Selasa, 08 Oktober 2013

Selat Madura Laut Keluarga

pangan sedikit banyak terjawab oleh perdagangan beragam komoditas untuk membiayai pembelian kekurangan bahan pangan di Madura. Namun, problem kepadatan penduduk tak lantas selesai dengan mendatangkan pangan dari Jawa. Kepadatan penduduk yang memangkas peluang memperbaiki nasib di Madura dijawab dengan cara lain. Merantau dengan melintasi Selat Madura!

Saleh (77) tak lagi ingat tahun berapa umurnya saat meninggalkan kampungnya di Batu Putih, Sumenep. Yang diingatnya, ia berangkat merantau setelah Jepang—yang selama pendudukannya melarang migrasi orang dari Madura—angkat kaki dari Indonesia.

”Saya seorang diri pergi ke Kali Anget, Sumenep, berbekal uang Rp 10. Saat itu, perahu kayu yang saya tumpangi sesak oleh lebih dari 75 penumpang. Setelah perjalanan semalaman, perahu layar tanpa mesin itu tiba di Panarukan, dan melanjutkan perjalanan ke Situbondo,” kata Saleh soal kisahnya mengadu nasib di pesisir utara Pulau Jawa itu.

Dengan menumpang di rumah pamannya, Saleh bertahan hidup dengan bekerja serabutan, mulai dari tukang batu sampai menjadi anak buah kapal di perahu-perahu pencari ikan. Tahun 1961, ia dijodohkan dengan Mirati, gadis 12 tahun yang lahir di Panarukan, tetapi ternyata berasal-usul dari Desa Larangan Kerta, tetangga Desa Batu Putih.

”Saya waktu itu masih kelas V SD. Begitu lulus SD, tahun 1962, kami dinikahkan. Tiga tahun kemudian lahir anak pertama kami,” tutur Mirati (64) mengenang masa mudanya.

Saleh tertawa mengenang masa mudanya. ”Sesudah anak kedua kami cukup besar, saya lupa persisnya tahun berapa, kami sekeluarga pulang ke Sumenep. Itu sudah belasan tahun sejak merantau. Kalau orang Madura bilang, Oreng mate e poles (ibaratnya orang mati tiba-tiba hidup kembali gara-gara dibedaki). Gegerlah keluarga di rumah,” ujar Saleh tertawa.

Pasangan itulah pemilik Warung Nasi Pak Saleh di Jalan Mawar, Situbondo. ”Masakan di sini masakan rumahan, seperti nasi jagung, sayur kelor, dan ikan kuah asam dengan bumbu kella celok. Masakan Jawa juga ada, rawon, lodeh, nasi campur. Arah rasanya ya arah rasa Madura, asin. Kebanyakan orang Situbondo kan keturunan orang Madura,” kata Mirati tertawa.

KOMPAS/RADITYA HELABUMISuasana lengang di dermaga penyeberangan feri Kamal.
Sejarah migrasi orang Madura melintasi Madura memiliki sejarah jauh lebih tua ketimbang kisah perjalanan Saleh yang mencoba peruntungan hidup di Situbondo. Hubb de Jonge menyebutkan, sejak pertengahan abad ke-18 terdapat 833.000 orang Madura yang tinggal di Jawa Timur, dua kali lipat dari jumlah penduduk Madura. Pada tahun 1930, hampir sekitar 2,5 juta orang Madura bertempat tinggal di luar Madura dan sebagian besar tinggal di Jawa Timur. Mereka menemukan pantai Jawa di sepanjang Selat Madura serupa dengan alam Madura.

”Seolah Selat Madura ini merupakan teluk bagi daerah kebudayaan Madura.... Sebagian besar dari Jawa Timur dibuka dan diusahakan orang Madura. Bagian terbesar dari penduduk pantai utara Jawa Timur berasal dari Madura, dan kira-kira sepertiga penduduk Surabaya dan Gresik berketurunan Madura,” tulis De Jonge dalam buku Madura dalam Empat Zaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, dan Islam.

Abdul Latif Bustami menyebutkan, migrasi orang Madura ke pesisir utara Jawa dengan melintasi Selat Madura memiliki sejarah panjang. Bustami menyebut Prasasti Kudadu (1294) yang mengisahkan bagaimana Narariya Madura Adipati Wiraraja, raja Songenep (sekarang bernama Sumenep), membantu Raden Wijaya menghancurkan Jayakatwang dari Kerajaan Gelang-gelang (Kediri) dan tentara Tartar.

”Orang-orang Madura membantu pembukaan Hutan Tarik, cikal bakal Kerajaan Majapahit. Itu bukti panjangnya sejarah migrasi orang Madura ke Jawa. Selat Madura dilintasi karena hingga abad ke-18 tidak ada jalan yang memadai di Madura. Selat Madura adalah rute termudah menuju Jawa,” kata Bustami.

Migrasi orang Madura melalui Selat Madura kerap menempuh jalur pelayaran terpendek sehingga kantong-kantong permukiman orang Madura di pesisir Jawa bisanya langsung berseberangan dengan kampung asal mereka. Hari ini, kantong-kantong itu menjadi sejumlah kota di pesisir utara Jawa, seperti Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso.

”Kita bisa melacak bahwa orang Sumenep banyak bermukim di kota-kota yang berhadapan langsung dengan Sumenep, seperti Situbondo, Bondowoso, dan bagian utara Banyuwangi. Orang Probolinggo banyak yang bermigrasi ke Pamekasan. Pasuruan banyak menjadi tujuan orang Bangkalan dan Sampang. Gelombang migrasi terbesar terjadi saat Belanda membuka perkebunan beragam komoditas di Jawa Timur pada abad ke-17 dan ke-18,” kata Bustami.

Bukan hanya Mirati yang mewarisi ragam cara memasak Madura. Di Situbondo kami juga singgah di Kaldu Olehan yang berada di dekat Pabrik Gula Olehan. Kaldu racikan Hajah Hasanah itu berkuah lebih cair, hanya memiliki sedikit kacang hijau di kuahnya yang penuh potongan daging sapi. ”Di Situbondo, orang tidak gemar memakan kaldu dengan bubur kacang hijau yang kental,” tutur Hajah Hasanah.

KOMPAS/RADITYA HELABUMIJembatan Suramadu di malam hari.
Warung Tolak Sariani (58) menyajikan beragam menu yang berhulu dari tradisi kuliner Madura dan Jawa. Ia menjual tahu campur populer di Surabaya, juga rujak petis yang lezat oleh petis udang. Di Jalan Raya Gending, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, kami bertandang ke warung nasi jagung Sumiati (43) menyantap nasi jagung dan ikan benggol berbumbu kella celok.

”Semua masakan saya memang memakai bumbu Madura karena kebanyakan warga di Gending keturunan orang Madura. Semua masakan itu diajarkan ibu saya. Sehari-hari kami berbahasa Madura, belajar masak pun dengan belajar bumbu masakan Madura, seperti pellapa gene’ dan beragam varian, seperti kella celok ataupun kella pateh,” tutur Sumiati.

Namun, arus perpindahan orang di sepanjang Selat Madura bukan melulu migrasi orang dari Madura ke pesisir utara Jawa. Orang Madura dikenal dengan tradisi ”toron”, atau tradisi pulang ke kampungnya di Madura setiap hari raya Idul Fitri. Anak-cucu dari generasi lampau yang bermigrasi keluar Madura pun kerap kali masih memelihara hubungan dengan kampung asalnya.

Para pekerja musiman banyak yang menghabiskan musim kemarau di Jawa, lalu pulang ke Madura di musim penghujan yang singkat. Tak hanya itu, banyak pula orang Jawa yang bermigrasi ke Madura karena bekerja, menuntut ilmu agama di sejumlah pondok pesantren tua di Madura, ataupun karena menikahi orang Madura.

Karena itu, jejak kuliner Jawa pun bisa ditemukan di Madura, dengan pelokalan rasa yang kerap kali mengejutkan. Ya, masih teringat rasanya saat mencicipi rawon khas Madura di Rumah Makan 17 Agustus, Sumenep. Rawon merah tak berbumbu kluwak yang tak kalah sedapnya.

WWW.REKOMENDASI.MENasi rawon.
Pemilik Rumah Makan 17 Agustus di Sumenep, Edi Setiawan, menyebutkan, rawon beningnya bersiasat dengan alam. ”Jika tidak ada kluwak, tidak harus berbumbu kluwak. Rawon dengan kluwak sudah pasti masakan Jawa. Di rumah makan kami, warna merahnya lebih kuat karena bumbu cabai, memang dipengaruhi budaya kuliner peranakan,” kata Edi, peranakan Tionghoa yang juga budayawan Sumenep itu.

Itu mengapa FX Sutjipto menyebutkan Selat Madura laut keluarga. Selat Madura menjadi hulu cita rasa, bukan karena menjadi sumber dari beragam bahan pangan yang melimpah. Selat Madura menjadi hulu cita rasa karena menjadi penyilang budaya kuliner Madura dan Jawa, yang bersua lagi dengan beragam-ragam budaya di kota bandar besar di mulut ”corong” Selat Madura, Surabaya. (Aryo Wisanggeni Genthong dan Ingki Rinaldi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar