Selasa, 08 Oktober 2013

Tenun Sukarara yang Menjadi Andalan Lombok

LOMBOK seperti ingin lepas dari bayang-bayang kemasyhuran Bali dalam pariwisata. Caranya dengan menawarkan beberapa kreativitas seni dan budayanya, di antaranya melalui tenun songket. Kain tenun songket Desa Sukarara di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), merupakan produk andalan yang masih berkembang.

Desa ini terletak sekitar 20 kilometer (km) ke arah selatan dari Mataram, ibu kota NTB. Di desa ini terdapat puluhan industri rumah tangga tenun songket. Seluruh penenun adalah kaum perempuan.

Wisatawan bisa langsung menyaksikan proses pembuatan kain tenun songket. Harga sehelai kain tenun bervariasi, tergantung dari bahan benang dan motifnya. Harga kain di Balai Kesenian Tradisional Mataram pun lumayan miring. Kain dengan motif yang cukup rumit dengan warna yang beragam, jelas lebih mahal dibandingkan motif sederhana dengan dua warna benang.

Dari waktu pembuatan, kain bermotif rumit membutuhkan waktu yang lebih lama, bisa satu bulan untuk kain berukuran lebar 60 sentimeter (cm) dan panjang 200 cm. Untuk menenun satu helai kain, rata-rata diperlukan waktu 2 minggu hingga satu bulan. Harga kain hasil tenunan kaum perempuan di Balai Kesenian Tradisional ini berkisar Rp 50.000 hingga Rp 4 juta per lembar.

Berutang lebih dahulu

Usaha kain tenun songket di Mataram sebenarnya bisa lebih maju seandainya perajin tidak kesulitan modal untuk membeli benang sebagai bahan utama kain tenun. Selama ini, perajin kecil umumnya berutang lebih dahulu kepada toko penjual benang. Utang itu baru dibayar setelah kain tenun laku terjual.

Pendapatan mereka tak menentu, bergantung pada kunjungan wisatawan. Terkadang nilai transaksi dalam satu hari kurang dari Rp 100.000, tetapi di hari lain bisa jutaan rupiah.

Promosi hanya mengandalkan kedatangan wisatawan di Desa Sukarara. Berbeda dengan pemilik galeri lain yang bermodal besar, mereka bisa bekerja sama dengan agen perjalanan wisata untuk mengundang turis berkunjung ke galeri.

Perajin yang bergerak sendiri, tak mendirikan kelompok, akan sulit bertahan. Umumnya mereka kekurangan modal dan lemah dalam pemasaran. Jika bergabung ke pemodal besar, tak perlu pusing mencari modal untuk membeli benang. Ia cukup membuat kain tenun dengan bahan yang disediakan pemilik toko.

”Saya mendapat upah, jika kain tenun buatan saya dibeli pengunjung toko. Selain itu, juga kerap menerima tip dari tamu pengunjung toko yang menyaksikan saya menenun,” papar Siti Maryam, salah seorang perajin.

Siang itu, Siti mengajari kami cara menenun. Ternyata sulit juga, menghentakkan kayu kuat-kuat, agar benang-benang tersusun rapat. Selain Siti, ada enam penenun yang setiap hari membuat kain tenun songket di halaman depan toko itu. Mereka adalah penenun dari Desa Sukarara yang memilih bergabung dengan pemilik modal yang lebih besar.

Siang itu, kami juga menjumpai Rahmat, warga Surabaya, Jawa Timur, yang sedang berkunjung ke Lombok bersama rekannya. Toko dan galeri Dharma Setya, adalah salah satu tujuan yang direkomendasikan pemandu wisata mereka.

Dari nilai yang dibelanjakan wisatawan, sekitar 10 persennya untuk biro perjalanan dan pemandu wisata. Kedatangan wisatawan lokal menjadi andalan saat ini. Pasalnya, pembeli dari luar negeri, yang biasanya memborong kerajinan kayu dan kain tenun, sudah dua tahun terakhir tidak lagi datang. Krisis perekonomian global turut memukul ekonomi kreatif, seperti kerajinan tenun Lombok, kendati tidak secara langsung.

Namun, harapan tak pernah surut. Apalagi, tren kunjungan wisatawan semakin meningkat, setelah adanya Bandara Internasional Lombok. Jadi wisatawan benar-benar ke Lombok untuk berwisata, bukan hanya mampir setelah dari Bali atau sebelum ke Bali. (IDR/APO)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar